Langsung ke konten utama

Siapa Aku

Siapa Aku

Tahukah kau bagaimana rasanya dipaksa dewasa sebelum waktunya?
lalu sebagai seorang gadis remaja yang beranjak dewasa, pernahkah kau merasa kehilangan jati diri? lulu panggilan kecilnya dan tak semua orang tau itu. Ya aku adalah lulu seorang gadis yang terbiasa hidup dalam keheningan, mengucilkan diri dari berbagai pernak-pernik keindahan.



"Lu, ayahmu tak akan kembali ke rumah ini" suara gemetar keluar dari bibir ibu, mukanya sembab dan sesekali tak bisa menahan air matanya. Taukah kau bagaimana rasanya mendengar kalimat itu? Kata-kata ibu seperti petir menyambar telingaku. Harapanku seketika hancur berantakan, "Ibu kenpa? Ayah dimana?" Aku tidak tau lagi harus berkata apa. Aku tau maksut ibu, namun begitu sulit rasanya untuk diterima. Harusnya ini bukan lagi menjadi kabar mengejutkan jika saat itu ayah tak berbohong kepadaku. Aku tau antara ibu dan ayah sudah tidak ada lagi kecocokan. Sebagai seorang anak aku hanya berharap mereka mempertimbangkan keputusannya. Adik masih sangat kecil saat itu.

Sebelum mengambil tiket ayah sempat mengajakku singgah di mini market, membelikanku es krim dan sebotol susu yang biasa diminum adik. "Lulu, rajin-rajin belajar nak, jangan sampai peringkatnya turun" sambil mengusap kepalaku. Aku tersenyum "Ayah janji nanti pulang dari sana belikan sepeda kalau ai tetap juarakan?". Ayah mengandeng tanganku "iya". Masih saja hal itu membayang di ingatanku. Kenapa hari itu ayah tidak jujur kepadaku.

Aku memeluk ibu "Kenpa dengan Ayah, Ayah kemana?" ibu tak menjawab pertanyaanku, ia hanya mengais, tak perlu aku teruskan sebab tangisan itu sudah jawaban bagiku. Aku sadar bahwa sekarang ibu dan ayah sudah tidak bersama lagi. Hal ini sangat berat bagiku namun tentu jauh lebih berat bagi ibuku. Bagaimana pun kehidupan harus tetap berjalan bukan? Aku harus kuat sebab aku paham setiap keping kehidupan memiliki makna yang tersimpan di dalamnya. Aku yakin ayah pasti kembali meski tanpa hati yang utuh dan aku juga yakin ibu pasti bertahan menyusun kepingan hati yang berantakan. Ayah tetap berada di jalan yang baik ya, tetap sehat di kejauhan sana. Ibu tetap harus kuat masih ada aku dan adik di sini. Setidaknya kami adalah alasan untuk ibu tetap semangat. Bisik hatiku saat dalam pelukan ibu. Aku memeluknya lebih erat lagi.Seakan tak ingin ku beranjak dari sisi ibu, membuat ibu paham betapa terpukulnya aku dengan keptusan itu.

Aku paham sekarang situasinya sudah berbeda, aku bukan lagi gadis kecil yang bisa terus-terusan merengek ingin ini itu. Aku sudah remaja, aku harus paham dengan kondisi yang kami alami saat ini. Tinggal di tempat sunyi bukan menjadi masalah selagi masih ada ibu didekapku. Aku percaya di tempat ini akan ada sekenario baru yang Allah ciptakan untukku, aku harus siap tidak kembali ke  kota yang melahirkan sejuta kenangan kecil bagiku.

Mereka bilang hal yang terburuk bagi anak perempuan ialah kehilangan kasih sayang dari seorang ayah. Namun bagiku tidak, sebab hatiku sudah tertata sejak saat itu, saat ayah pergi meninggalkan kami. Aku paham menjadi seorang ayah itu tidak mudah, aku juga tau betul bahwa itu juga keputusan yang sulit bagi ayah. Bukankah sudah aku katakan, aku telah dewasa sebelum waktunya. Aku percaya setiap jalan hidupku sudah takdir dari Rabku. Aku pun harus kuat seperti ibu yang senyumnya tak lekang untukku, senyum yang mereka lihat tulus namun aku tau dibalik senyum itu terdapat luka yang begitu dalam merobek hatinya. Matanya kian berbinar seraya memaksaku untuk turut mengerti dengan keadaan yang kami alami. Inilah aku seorang yang mendewasa sebelum waktunya.



Komentar